PDF version klik di sini
Pelatihan Wirausaha dan Edukasi Perbankan (PWEP) kali ini terbilang
sangat spesial dengan kehadiran pembicara-pembicara yang didatangkan
secara langsung dari tanah air. Bertempat di Nishinomiya City Hall,
Kobe Jepang, PWEP ke-9 ini dinamakan PWEP Kansai Big Event 2 setelah
sebelumnya sukses dengan Big Event 1 di Tokyo dan 7 PWEP reguler di
beberapa kota lain di Jepang.
Acara yang berlangsung pada tanggal 26 Oktober 2008 selama hampir 8
jam ini dibuka oleh Bapak Patriot Adinarto, Konsul Bidang Sosial
Budaya, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI), Osaka. Acara
pelatihan ini cukup semarak dengan dihadiri oleh hampir 200 orang yg
terdiri dr 109 orang peserta, Perwakilan IMM Jepang, KJRI, BI Tokyo,
BI Jakarta dan Jember, BNI Tokyo, Deputi Menteri Koperasi dan UKM,
Yayasan Dhana Bakti Astra (YDBA) , Working Group for Technology
Transfer (WGTT) Team, serta anggota dan pengurus PPI Korda Kansai.
Pada kesempatan tersebut, Mohammad Iqbal, Manager YDBA menyampaikan komitmennya untuk melatih trainee Jepang yang telah kembali ke tanah air untuk menjadi wirausahawan bengkel roda 2. Melalui pelatihan yang terdiri dari mekanik dan manajemen ini, diharapkan para trainee dapat memiliki Bengkel AHASS –Astra Honda Motor- atau Bengkel Mitra Aspira (BMA) yang dapat membuka peluang kerja dan mengurangi tingkat pengangguran.
Dalam kesempatan yang sama, A. Firman Wibowo, Kepala BNI Tokyo,
menjelaskan tentang solusi pengiriman uang dari Jepang ke Indonesia
yang aman, cepat, dan legal, yaitu dengan sistem direct transfer,
genkin kakitome, dan express transfer (smart remittance). Permasalahan
ini memang menarik untuk selalu dikaji mengingat pada bulan Juli
terjadi penangkapan terhadap salah seorang WNI karena dugaan money
laundering.
Presentasi menarik juga disampaikan oleh Neddy Rafinaldy Halim, Deputi
Menteri Koperasi dan UKM. Melalui program studi Penciptaan Sarjana
Pengusaha di Institut Manajamen Koperasi Indonesia (Ikopin), pada
tahun ke-3 mahasiswa diwajibkan untuk mengikuti program training di
Jepang. Program ini bertujuan untuk memadukan aspek kuliah formal
(akademis) dengan kerja praktik di Negara Sakura.
Pada sesi tanya jawab, pernyataan menarik dilontarkan oleh Abdul Azis,
Kepala Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksetralan (PPSK) BI Jakarta
untuk menjawab pertanyaan dari salah seorang peserta yang bingung
tentang apa yang harus dilakukan setelah program 3 tahun trainee di
Jepang berakhir. BI mengharapkan para trainee untuk menghubungi
Depnaker di daerah masing-masing dan memberikan gambaran tentang
bidang usaha yang diminati. Selanjutnya Depnaker akan menghubungi BI
untuk proses pendampingan sampai trainee tersebut menjadi
wirausahawan. Program pendampingan ini terbukti efektif dalam mencetak
wirausahawan pertanian organik, pertanian jeruk, peternakan sapi, dll
di Kabupaten Jember yang merupakan pilot project dari program
pendampingan ini.
Menyambut antusias para peserta, pada tahun 2009 WGTT merencanakan 8
PWEP di beberapa kota di Jepang dan tidak menutup kemungkinan di luar
Jepang. Juga tidak ketinggalan, WGTT menyediakan PWEP 24 jam yang
dikenal dengan istilah ePWEP dengan memanfaatkan teknologi maya yang
dapat diakses di http://wgtt.org.
Acara ini ditutup oleh Wempi Saputra, MC sekaligus GM WGTT dengan
sebuah kesimpulan untuk kunci sukses berwirausaha, 3M -mental
(wirausaha perlu persiapan minat, bakat, dan semangat), mindset
(wirausaha perlu inovatif dan tidak harus dimulai dengan modal besar),
dan modal (perlu modal awal dengan tabungan sendiri, bukan dengan
pinjaman). Untuk penyelenggaraan pelatihan kali ini, WGTT dan PPI
Jepang Korda Kansai didukung penuh oleh KJRI Osaka, BI Tokyo, IMM
Jepang, KDDI, serta Telkomsel.
Dodik Kurniawan, CRM-WGTT
Dipublished pertama kali di Situs WGTT http://wgtt.org/index.php?option=com_content&task=view&id=112&Itemid=1